‘Teng… Teng…
Teng…’ bel berbunyi. Seseorang melonjak, melompat dari
kursi bewarna coklat tua. ”Yeayy!!”, teriak gadis manis itu. Dia tak sadar
bahwa didepan kelas berdiri seorang wanita paruh baya yang menatapnya marah. ”Natalie!!!!”
teriak miss Vivi emosi. Natalie terbengong. ”Iya miss?” tanya Natalie polos.
Miss Vivi menghampiri Natalie. Dia menjewer gadis berpostur tinggi itu. Sedikit
sulit karena Natalie jauh lebig tinggi dari wanita tersebut. ”A.. Aww!!”
Natalie mengaduh. ”Kamu tuh tak sadar kalau kelas masih dalam proses belajar
apa? Sekarang sebagai hukumannya kamu harus keluar dari kelas ini.” perintah
wanita itu pada Natalie. Kemudian miss Vivi melepaskan jari-jarinya yang telah
keriput karena usia dari telinga gadis imut itu. Dia kembali ke meja yang
berada di depan kelas. Natalie berjalan lesu kearah pintu kelas yang tertutup.
Dia mendaratkan tangannya dia knop pintu dan memutar knop bewarna coklat tua
itu, menarik pintu, keluar, dan menutupnya kembali. Dia bingung harus melakukan
apa sekarang. Dia berharap dihadapannya sekarang terdapat hal yang dapat
menghiburnya. Dia menjatuhkan dirinya ke ubin putih mengkilap. Bersandar pada
dinding kokoh yang berlapiskan bata, semen, dan cat silver cerah. Dia memeluk
kedua kaki jenjangnya. Memposisikan kepalanya diantara kedua kaki jenjang itu. ”Arggghhh!!
Ayolah, kenapa harus diluar? Sangat membosankan! Tak ada teman! Siapapun
hiburlah aku!” gerutunya kesal, masih dengan posisi yang sama. Tiba-tiba dia
merasa bahunya disentuh. Dia mendongak dan.. Tring.. Tring.. Dia menari dalam
pikirannya sendiri.
’Apa aku tak salah liat? Siapa gerangan yang
berada dihadapanku? Tampan sekali. Apakah dia adalah pangeran yang diutus untuk
membawaku ke istana megah? Ohh.. benar-benar wajah pangeran. Bukan! Tepatnya
wajah malaikat. Benar-benar mulus. Ayolah.. kalau aku bermimpi tolong sadarkan
aku. Ini benar-benar mimpi terindah sepanjang hidupku. Wajahnya benar-benar
melebihi ketampanan Mario Maurer.’ Batin Natalie saat dia melihat seorang
pria berbadan tinggi tegap berdiri dihadapannya dan menatapnya. Tanpa sadar
Natalie berdiri tepat didepan pria itu. Ternyata tingginya tak terlalu jauh
karena Natlaie memang siswi tertinggi disekolah tersebut. Natalie mengulurkan
tangannya yang mulus ke wajah ’pangeran’ yang berwajah mulus dihadapannya.
Jarinya menari, mengitari setiap bagian pada wajahnya. Dari mata, hidung, dan
bibir. Dia benar-benar terpukau pada pemandangan dihadapannya. Sedangkan yang
menjadi ’korban’ tangan mulus Natalie tenang-tenang saja. Sebenarnya dia geli
melihat gadis yang berwajah imut juga polos menyentuh wajahnya dengan tangan
yang lembut. Dia tersenyum. Karena Natalie tak sadar juga akhirnya pria itu
menyadarkannya. ”Hei!” sapanya ramah, tidak lupa dengan senyuman super manis
andalannya. Natalie tersadar. Melihat tangannya berada di wajah ’pangeran’ itu,
dengan cepat dia tarik. Dia menundukan kepala. Pipinya terasa panas. Dan benar
saja wajahnya bersemu merah. Dia sangat malu dengan tindakan konyol barusan. ”Maaf.”
ucapnya gugup. Pria dihadapannya manahan tawa. ”Tak apa. Sedang apa disini?”
tanyanya masih dengan menahan tawa. ”Dihukum.” jawab gadis itu masih dengan
nada gugup. ”Kenapa?” tanya pria itu dengan nada penasaran. Natalie mendongak.
Sepertinya wajahnya telah kembali ’normal’. Dia merasa bahwa rasa gugupnya
telah hilang. ”Tapi kau tak boleh menertawaiku. Aku dihukum karena teriak di
kelas sambil meloncat dari bangkuku. Kupikir bel yang terdengar adalah bel
istirahat. Jadi aku melonjak kegirangan. Ternyata aku salah. Jadinya dihukum deh..” jelasnya panjang lebar. Sifat
cerewet Natalie kembali lagi. Pria itu lansung tertawa renyah, ”Hahahaha.. Kau
ini.”. ”Ihh.. ’kan kamu sudah janji tak akan tertawa.” gerutu Natalie mencubit
lengan pria itu. Benar. Rasa gugup Natalie telah hilang. ”Maaf deh.. Aku
Valentico. Panggil Tico saja.” Tico menjulurkan tangannya. Natalie membalas
ulurannya itu, ”Aku Natalie.”Hmm..
Aku harus memanggilmu apa? Natalie? Natal? Nata? Atau Tali?” tanya Tico. ”Terserah
kau saja.” Natalie kemudian duduk dengan posisi yang sama seperti sebelumnya
namun tampa menyembunyikan kepalanya. ”Yasudah, kupanggil Tali saja deh. Hahaha.” Tico tertawa lagi. Natalie
hanya tersenyum. Untuk pertama kali seorang pria memanggilnya dengan sebutan ’Tali’.
Yang pernah memanggilnya Tali hanya Kakaknya, Dion. Dia tersipu. Kembali
menyembunyikan kepala mungilnya diantara kedua kaki janjangnya. Dibalik kedua
kaki jenjang itu terbentuk senyum manis. ”Ehh
iya. Kamu tau tidak kelas XII-3? Aku mencari-cari kelas itu tapi tak dapat
juga.” Tico memulai pembicaraan lagi. Natalie kembali mendongak, ”Kau anak baru
yah? Ternyata kau lebih tua dari aku. Kelas itu ada di seberang perpustakaan. Tuh!” tunjuk Natalie ke ruangan berpintu
coklat kayu. Tepat di seberang ruangan itu terdapat ruangan yang lebih luas,
deretan buku terdapat disitu. Tico mengikuti tangan Natalie dengan pandangan. ”Ohh..
Iya aku anak baru. Kamu kelas XI-2?” tanyanya saat melihat disebelah Natalie
terdapat pintu yang berdiri kokoh, dan diatas pintu tersebut dipajang palang
kecil bertuliskan ’XI-2’. ”Iya.” jawab Natalie singkat. ”Kau tak kekelasmu?”
Tanya Natalie. ”Tico menggelengkan kepalanya. ”Tidak ahh.. Nanti saja setelah bel istirahat. Aku mau menemanimu. Kasian ’kan
kau tak ada teman di sini.” jelas Tico dengan tersenyum. ”Baik sekali kau.”
puji Natalie.
~ - ~ - ~ - ~ - ~
’Teng... Teng... Teng...’ bel berbunyi
menandakan istirahat. ”Thankyou miss! Goodbye!” terdengar dari kelas XI-2 salam para siswa/i
untuk miss Vivi. Seluruh murid berhamburan keluar dari kelas. Saat Celine
keluar dia kaget karena Natalie duduk dengan posisi memeluk kaki dan
menyembunyikan kepala di sela kakinya itu. Natalie tertidur. Celine berlutut,
dan mengguncang tubuh Natalie. ”Nat! Bangun! Sudah istirahat!” teriaknya.
Natalie mendonagkat dangan mata setengah terpejam. ”Ada apa?” tanya Natalie
polos. ”Kok ada apa sih? Sudah istirahat nih! Ayo kekantin!” Celine menarik
Natalie untuk berdiri. Natalie akhirnya berdiri. Dia melihat sekeliling,
ternyata sudah ramai. Tapi sepertinya ada yang kurang. Ya. Tico mana? ”Cel,
Tico mana?” tanya Natalie panik karena tak melihat batang hidung pria yang
bersamnya tadi. ”Tico? Siapa?” tanya Celine bingung. ”Pangeran tampanku. Tadi
dia menemaniku selama aku dihukum.” jelas Natalie masih dengan mengecek keadaan
sekitar. Celine terlihat bingung. ”Kau bermimpi kali.” Celine mencoba
menenangkan Natalie yang panik. ”Tidak. Tadi itu nyata. Aku berbincang-bincang
dengannya. Dia tertawa bersamaku. Pangeranku kemana?” Natalie terjatuh. Dia
menutup wajahnya dengan kedua telapat tangannya. Celine berusaha untuk membuat
Natalie berdiri. ”Sudahlah. Kita cari ’pangeran’mu nanti saja yah. Aku lapar nih.” Celine menarik Natalie kekantin.
Natalie menurut. Dia berjalan dengan lesu mengikuti kemana Celine pergi. Tanpa
ia sadari sepasang mata sedang memperhatikan gerak-geriknya dari jauh.
~ - ~ - ~ - ~ - ~
~To be continued~
Tidak ada komentar:
Posting Komentar